PTPN Labuhan Haji Disorot: Potret Kemiskinan Ekstrem di Lingkaran BUMN dan Dugaan Maladministrasi Dana Desa

Nur Kennan Br Tarigan

- Redaksi

Selasa, 10 Maret 2026 - 04:41 WIB

5032 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABURA –Nasionaldetik.com

Status PTPN sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seharusnya menjadi motor kesejahteraan masyarakat, kini tengah menuai sorotan tajam. Di Desa Labuhan Haji, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, fenomena kemiskinan ekstrem justru muncul di tengah lingkungan perkebunan, memicu dugaan adanya ketidakberesan dalam pengelolaan kesejahteraan karyawan serta transparansi pelaporan Dana Desa( Labura 09 Maret 2026 ).

Berdasarkan data yang dihimpun dari laman Kemenkeu dan KPK melalui sistem Omspan, tercatat angka kemiskinan ekstrem di Desa Labuhan Haji mencapai 46 KK pada tahun 2022, dan meski menurun, masih menyisakan belasan KK hingga tahun 2025. Fakta bahwa seluruh warga di 4 dusun desa tersebut berstatus sebagai karyawan PTPN menciptakan anomali besar.

Secara fungsional, perusahaan perkebunan memiliki kewajiban konstitusional untuk menjamin taraf hidup karyawannya melalui upah layak dan jaminan sosial. Munculnya data “kemiskinan ekstrem” bagi karyawan aktif mengindikasikan dua kemungkinan: kegagalan perusahaan dalam memberikan hak kesejahteraan, atau adanya manipulasi data di tingkat desa demi mencairkan bantuan sosial.

Kepala Desa Labuhan Haji, Supriadi, yang juga merupakan karyawan perkebunan, kini tengah diduga melakukan praktik “main mata” terkait laporan Dana Desa. Laporan SDGs per 8 Maret 2026 menunjukkan lonjakan penerima bantuan sosial yang tidak rasional, yakni mencapai 207 KK yang terdaftar secara resmi dalam laman Kemendes.

Ketidaksinkronan ini mencakup penyaluran BLT-DD, PKH, hingga bantuan pekerja. “Semuanya karyawan, kalau masyarakat (miskin) ekstrem itu kami bagikan sama orang tua,” ungkap salah satu staf KPM saat dikonfirmasi (09/03). Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa penyaluran bantuan sosial di wilayah tersebut berpotensi tidak tepat sasaran atau menyalahi regulasi peruntukan bagi warga miskin ekstrem yang sesungguhnya.

Ketidakmampuan perusahaan dalam mengangkat status ekonomi karyawannya keluar dari garis kemiskinan bukan sekadar masalah internal, melainkan memiliki dampak sistemik:

Sebagai BUMN, PTPN wajib menjunjung tinggi transparansi dan tanggung jawab sosial. Adanya label “miskin ekstrem” pada karyawan mencoreng reputasi korporasi di tingkat nasional dan melanggar prinsip kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan.

Temuan ketidaksinkronan data bantuan sosial (BLT-DD) di wilayah perusahaan dapat memicu audit investigatif dari Inspektorat maupun aparat penegak hukum terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan anggaran negara.

Karyawan yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem cenderung memiliki motivasi kerja yang rendah, risiko kesehatan tinggi, dan kerentanan terhadap konflik industrial yang dapat menghambat operasional perkebunan.

Perusahaan dinilai gagal menjalankan fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) dan gagal menjadi mitra strategis pemerintah dalam pengentasan kemiskinan sesuai target nasional 0% kemiskinan ekstrem.

Jika terbukti ada manipulasi data demi mendapatkan subsidi negara, hal ini tidak hanya menjadi rapor merah bagi manajemen PTPN Labuhan Haji, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pemeriksaan pidana korupsi terkait pengelolaan dana desa yang tidak akuntabel.

S.Rijal.Nbh.Tim.

Berita Terkait

Dukung Program Swasembada Pangan Presiden Prabowo, Warga Suka Rame Minta Akses Lahan Eks-HGU Surya Sakti
Membongkar Borok Proyek Jembatan Sei Juragan: Oknum Dewan Terlibat Teknis Pengawasan Lapangan
Misteri “Simsalabim” Dapur SPPG Tanjung Pasir: Hanya Tutup 2 Hari Kembali Beroperasi, Limbah Hantui Warga
Ironi Jembatan Sei Juragan: Alibi ‘Pengawas’ Anggota Dewan di Tengah Proyek Retak dan Tudingan KKN
Inspektorat Labura Didesak Audit Ulang Desa Halimbe: Proyek Digitalisasi Mangkrak di Rumah Sekdes, Diduga Ada “Main Mata”
Sesuai Regulasi, Pimpinan Socfindo Halimbe Tegaskan Pemenuhan CSR dan Hak Karyawan
Dusun Kongsi Enam Terpungut Narkoba: Sosok “Papi” Diduga Kendalikan Peredaran Sabu di Balik Rumah Makan
Sengkarut Kabel WiFi Ilegal di Tiang PLN Labura: Warga Desak Penertiban Massal

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 08:17 WIB

DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi Sigap Bantu Antar Warga ke Rumah Sakit

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:20 WIB

Koramil 07/Cipayung Gelar Patroli Malam Cegah Tawuran dan Kenakalan Remaja

Kamis, 30 Juli 2026 - 00:59 WIB

Sudah Habiskan Rp3,7 Miliar ‎Aktivis Lembaga Aliansi Banten Menggugat ( ABM ) Pertanyakan Belanja Sewa Hotel di Dindik Banten

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:32 WIB

Kapolres Indragiri Hilir Bersama PJU Cek Bank Pohon dan Berikan Hadiah Pohon kepada Personel yang Berulang Tahun

Selasa, 28 Juli 2026 - 06:12 WIB

Sidak Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi Dinilai Hanya Formalitas, Proyek Pengurugan Diduga Ilegal di Desa Sukaasih Kembali Berjalan

Selasa, 28 Juli 2026 - 01:21 WIB

Afifudin alias Bang Opik Resmi Pimpin DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi Gantikan Ade Gentong

Senin, 27 Juli 2026 - 14:06 WIB

Resmi Sandang Gelar Doktor, Pembina DPW IWO Indonesia Dr. Yuda Ganda Putra Tegaskan Pentingnya Pers Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Integritas

Senin, 27 Juli 2026 - 09:48 WIB

DPD IWO Indonesia Kabupaten Bekasi Soroti Jalan Rusak Parah di Ruas Sukahurip–Tambelang, Desak Pemkab Segera Bertindak

Berita Terbaru