LABURA –Nasionaldetik.com.
Proyek pembangunan Jembatan Sei Juragan di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) kini berada di titik nadir. Infrastruktur yang diharapkan menjadi urat nadi transportasi masyarakat justru berubah menjadi simbol kegagalan konstruksi setelah ditemukan berbagai kerusakan fisik berupa retakan signifikan, meski bangunan tersebut tergolong baru ( Labura 10 Maret 2026 ).
Kondisi ini memicu polemik panjang, terutama setelah nama seorang oknum Anggota DPRD Labura dari Fraksi Golkar berinisial P terseret dalam pusaran proyek tersebut. P dituding memiliki peran lebih dari sekadar wakil rakyat dalam pengerjaan jembatan, sebuah dugaan yang kemudian dibantahnya dengan dalih hanya menjalankan fungsi pengawasan.
”Saya di situ hanya pengawas. Saya juga tidak tahu kenapa saya yang ‘diburu’ dan dikejar-kejar terkait masalah ini. Saya tidak ada sangkut paut secara langsung dalam struktur pengerjaannya,” ujar P saat memberikan klarifikasi kepada awak media, Kamis (05/03/2026).
Namun, pernyataan P justru memicu skeptisisme publik. Alibi sebagai “pengawas” dinilai janggal karena secara regulasi, pengawasan teknis proyek pemerintah berada di bawah wewenang dinas terkait dan konsultan pengawas, bukan anggota legislatif secara personal di lapangan. Terlebih, P mengakui bahwa personel kemanaan nya ikut bekerja di lokasi proyek, yang semakin memperkuat dugaan adanya keterlibatan kepentingan pribadi di balik layar.
Terkait penggunaan material, isu penggunaan Pitrun (pasir batu) sebagai timbunan yang tidak sesuai spesifikasi teknis turut menjadi sorotan. P mengaku akan melakukan kroscek kepada pihak pengusaha, seraya menyebut bahwa pihak kontraktor telah berjanji untuk memperbaiki bagian yang retak.
Sikap yang terkesan “cuci tangan” ini memancing reaksi keras dari elemen masyarakat. Pada Rabu (04/03/2026), Aliansi Mahasiswa dan Pemuda (ALAM) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD dan Kantor Bupati Labura. Mereka menuntut transparansi dan pertanggungjawaban atas apa yang mereka sebut sebagai “raport merah” pembangunan infrastruktur di Labuhanbatu Utara.
Hingga saat ini, pihak rekanan atau pengusaha pelaksana proyek masih memilih bungkam, menambah daftar panjang misteri di balik Jembatan Sei Juragan. Kini, publik mendesak Inspektorat Labura dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan melakukan audit investigatif sebelum kerusakan jembatan tersebut memakan korban jiwa atau menimbulkan kerugian negara yang lebih besar.
Sahrijal.Naibaho.





































