Menakar Titik Temu Muktamar 35 NU : Cirebon Lokasi ideal di Tengah Tarik-Menarik Tiga Kutub Strategis

REDAKSI NASIONAL DETIK

- Redaksi

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:34 WIB

5060 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, – NasionalDetik.Com –
​Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kini menjelma menjadi arena perebutan pengaruh yang sengit. Forum tertinggi ini mempertemukan benturan kepentingan antara pragmatisme yaitu konsolidasi politik dengan idealisme. ​Pilihan lokasi bukan lagi sekadar urusan teknis fasilitas, melainkan manifestasi nyata dari geopolitik internal menjelang suksesi kepemimpinan tertinggi.18 Juni 2026

​Ketegangan ini dipicu oleh manuver tiga poros kekuatan dengan kalkulasi pragmatisnya masing-masing. Poros pertama yang diinisiasi kubu Gus Ipul membidik Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pusat perhelatan. Wilayah ini dinilai strategis untuk menggalang dukungan birokrasi melalui jaringan Kementerian Agama setempat, khususnya dalam menyokong figur Prof. Nasaruddin Umar pada bursa pencalonan.

​Sebaliknya, poros Rais Aam condong memilih Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, sebagai simbol kedekatan dengan episentrum kekuasaan negara. Lokasi ini dinilai ideal bagi lingkar istana untuk menyiapkan skenario atau calon alternatif guna mengimbangi arus utama elite PBNU.

​Sementara itu, poros ketiga di bawah kubu Gus Yahya bermanuver kuat untuk menempatkan muktamar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pilihan ini mengandalkan basis struktural para alumni Lirboyo dan kultural jaringan alumninya guna mengunci dukungan, sekaligus menegaskan supremasi struktural petahana.

​Tarik-menarik antara kepentingan birokrasi, politik istana, dan hidden agenda di pesantren ini menghadirkan ujian berat bagi independensi Khittah NU. Jika dipaksakan, setiap opsi membawa risiko politis yang fatal. Poros Lombok rawan dituduh mempolitisasi birokrasi, poros Jakarta rentan memicu resistensi kultural akibat intervensi istana, sedangkan poros Lirboyo dikhawatirkan memonopoli arena melalui arogansi struktural yang membungkam suara alternatif.

Di tengah ketiadaan kesepakatan mutlak mengenai lokasi perhelatan, wacana menjadikan kawasan Cirebon Raya sebagai jalan tengah kompromistis mengemuka secara rasional. Langkah ini dinilai mampu meredakan polarisasi sekaligus menyelamatkan marwah jam’iyyah (organisasi).

​Selain itu, secara geopolitik, Cirebon berada di luar pusaran dominasi langsung Jawa Timur maupun Jakarta, menjadikannya penengah kultural yang seimbang di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Selain meredam ego sektoral ketiga kubu, kawasan ini memiliki legitimasi historis yang kokoh sebagai pusat dakwah Walisongo yang dikelilingi ribuan pesantren berakar kuat.

​Menjauhkan muktamar dari basis langsung para kandidat akan membuka ruang bagi proses regenerasi yang lebih objektif, demokratis, dan berlandaskan akal sehat. Jadi, menempatkan Muktamar ke-35 di zona netral seperti Cirebon adalah pengejawantahan nyata dari sikap tawazun (seimbang), membuktikan bahwa NU masih mampu menjaga tradisi luhur di tengah pusaran politik kekuasaan.

Oleh karena itu, plihan Cirebon Raya bukan sekadar memindahkan koordinat geografis, melainkan sebuah dekonstruksi terhadap kalkulasi transaksional yang dibawa oleh ketiga poros. Dengan mensterilkan arena dari intervensi birokrasi, tekanan istana, maupun hegemoni petahana, muktamar memiliki kesempatan untuk mengembalikan kedaulatan kepada pemilik suara sah di tingkat wilayah dan cabang. Di titik inilah, dialektika gagasan tentang masa depan jam’iyyah dapat mengungguli mobilisasi logistik dan intimidasi struktural.

​Lebih jauh lagi, ujian independensi ini menjadi pembuktian sejauh mana Khittah 1926 masih kontekstual di tengah godaan pragmatisme politik modern. Ketika NU secara institusional terseret terlalu jauh ke dalam episentrum kekuasaan, ia berisiko kehilangan daya kritis dan legitimasi moralnya di hadapan umat. Zona netral menawarkan jeda kontemplatif bagi para muktamirin untuk merenungkan kembali khittah bukan sekadar sebagai jargon musiman, melainkan kompas moral dalam menavigasi relasi agama dan negara.

​Secara sosiopolitik, tarikan tiga kutub ini mencerminkan dinamika hubungan Syuriyah (dewan ulama) dan Tanfiziyah (pelaksana harian) yang kian kompleks dan sarat kepentingan. Polarisasi ini menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan NU tidak lagi bersifat linear berdasarkan kepatuhan kultural semata, melainkan hasil kompromi elite yang melibatkan variabel politik eksternal yang agresif. Jika benturan ini tidak diredam, dikotomi antara otoritas spiritual kiai dan pragmatisme elite struktural akan semakin menganga pasca-muktamar.

​Kegagalan menyepakati titik temu yang kompromistis seperti Cirebon akan membawa harga politik yang sangat mahal bagi stabilitas internal NU. Pemaksaan lokasi pada salah satu basis poros rawan memicu delegitimasi hasil muktamar oleh kubu yang kalah, yang pada gilirannya dapat melahirkan riak-riak perpecahan hingga ke akar rumput. Polarisasi berkepanjangan adalah skenario terburuk yang taruhannya adalah hilangnya kohesi sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama nahdliyin.

​Jadi, Muktamar ke-35 adalah momentum krusial untuk membuktikan bahwa NU jauh lebih besar dari sekadar syahwat politik para elitenya. Memilih jalan tengah yang rasional dan inklusif akan menegaskan kembali watak dasar NU sebagai pilar Islam moderat yang mengedepankan fikrah tawasutiyah (pemikiran moderat). Keberhasilan keluar dari jebakan kepentingan tiga kutub ini akan menjadi legasi sejarah bahwa NU mampu menjaga kedaulatannya di tengah badai intervensi.

(Red)

Berita Terkait

Gubernur Andra Soni Beri Contoh, Gerakan Antar Anak Ambil Rapot Perkuat Pendidikan Karakter
DPC MAUNG Kota Tangerang: Sewa Pesawat Fiktif Rp5,49 Miliar Jelas Melanggar Pasal 2 dan 3 UU Tipikor
Pembina DPD IWO Indonesia Kabupaten Tangerang Hadiri Pertemuan Rutin Perisai JATSC, Dorong Kreativitas dan Pemberdayaan Perempuan
Kasus Alih Fungsi Lahan di Sukatani Berbuntut Laporan Polisi, Kades Sukaasih Ikut Terseret
Lomba Domino Sabuk Kamtibmas Warnai Hari Bhayangkara ke-80, Perkuat Sinergi Media, Komunitas dan Polri
Sertifikat Siluman & Manipulasi Zonasi di SMAN 1 Telukjambe, Kepsek Pilih “Tutup Mulut” Saat Dikonfirmasi
MENGUTUK KERAS! Oknum Resmob Polda Jateng dan PM Diduga Jadi “Sumbu” Mafia BBM, Sekap dan Peras Jurnalis di Markas Polisi
Sungai Ciujung Kembali Menghitam Saat Musim Kemarau, Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Serang Desak DLHK dan Bupati Bertindak Cepat

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 10:32 WIB

Setetes Darah, Sejuta Harapan: Polres Aceh Tenggara Gelar Donor Darah Sambut Hari Bhayangkara ke-80

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:52 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Utama dan Kapolsek, Perkuat Kinerja Organisasi Menuju Polri Presisi

Senin, 15 Juni 2026 - 18:32 WIB

Ratusan Warga Antusias Ikuti Nobar Piala Dunia 2026 yang Digelar Polres Aceh Tenggara

Senin, 15 Juni 2026 - 12:08 WIB

Ketika Masyarakat dan Polres Agara Bersatu, Narkoba Kehilangan Tempat Bersembunyi

Senin, 15 Juni 2026 - 11:47 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Iptu Hengki Harianto Intensifkan. Pemberantasan Sabu di Bumi Sepakat Segenep Agara

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:32 WIB

Kapolres Aceh Tenggara dan Ketua Bhayangkari Tinjau Pasca Operasi Bibir Sumbing, Pastikan Senyum Harapan Terus Mekar

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:16 WIB

Menjahit Senyum, Menumbuhkan Harapan: Bakti Kesehatan Operasi Bibir Sumbing dan Celah Langit-Langit Gratis Warnai HUT Aceh Tenggara ke-52 dan Hari Bhayangkara ke-80

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:45 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Kembali Bertindak, Seorang Pemilik Sabu Diamankan di Lawe Alas

Berita Terbaru