Nasional detik.Net,JAKARTA – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Triga Nusantara Indonesia menjadikan momentum 4 Muharram (4 Suro) sebagai momentum refleksi spiritual sekaligus penegasan arah pergerakan organisasi. Di tengah dinamisnya panggung sosial-politik saat ini, lembaga ini memilih untuk mengutamakan penguatan internal dan advokasi yang bersih dari kepentingan ego sektoral.
Perwakilan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kader LSM Triga Nusantara Indonesia, Surachman, menyatakan bahwa bagi organisasinya, tanggal 4 Muharram bukan sekadar pergantian kalender Qomariyah, melainkan sebuah gerbang kontemplasi sosial dan spiritual.
> “Muharram atau Suro adalah waktu bagi kami untuk *mulat sarira* (mawas diri) dan menata ulang niat pengabdian. Kami mengadopsi filosofi *Kawruh Jiwa* dari pemikir besar Ki Ageng Suryomentaram, di mana fokus utama kami adalah bertumbuh untuk memberi manfaat, bukan untuk bersaing atau berebut panggung dengan lembaga lain,” ujar Surachman dalam keterangan tertulisnya.
>
Menurut Surachman, konflik dan egoisme kelompok di tengah gerakan kemasyarakatan hari ini sering kali lahir karena mengabaikan pembenahan internal. Oleh karena itu, LSM Triga Nusantara Indonesia berkomitmen menjadikan kemurnian niat sebagai jangkar sebelum mengawal berbagai isu strategis di lapangan.
Beberapa poin penting yang menjadi fokus pergerakan LSM Triga Nusantara Indonesia ke depan antara lain:
* **Pengawalan Investasi Daerah:** Memastikan iklim investasi berjalan sehat dan tidak merugikan hak-hak masyarakat lokal.
* **Kritik Kebijakan Publik:** Mengoreksi kebijakan pemerintah yang dinilai timpang atau tidak berpihak pada keadilan sosial.
* **Advokasi Lingkungan:** Menjaga kelestarian alam nusantara dari ancaman kerusakan demi keberlanjutan generasi masa depan.
### Menyatunya Gerakan dengan Rakyat
Selain dimensi spiritual, momentum ini juga diterjemahkan secara sosial sebagai konsep *Manunggaling Masyarakat*—yaitu menyatunya jiwa aktivis dengan rakyat. Surachman menegaskan bahwa posisi LSM Triga Nusantara Indonesia bukanlah sebagai pengamat jarak jauh atau pahlawan yang mendikte masyarakat, melainkan bagian organik dari akar rumput itu sendiri.
“Ketika ada hak masyarakat yang terabaikan atau lingkungan yang tercemar, kami tidak melihatnya sebagai komoditas politik atau sekadar kasus untuk mendongkrak reputasi organisasi. Itu adalah luka kami bersama. Sikap inilah yang memberi ‘ruh’ pada setiap langkah hukum, surat konfirmasi, hingga aksi moral yang kami lakukan,” tegasnya.
Melalui refleksi 4 Muharram ini, LSM Triga Nusantara Indonesia menyatakan komitmennya untuk terus bergerak tanpa harus menjatuhkan pihak lain. Keberhasilan gerakan swadaya masyarakat, menurut lembaga ini, diukur dari seberapa banyak hak masyarakat yang berhasil dipulihkan dan seberapa lestari lingkungan yang dapat diwariskan kelak.




































