Medan – Nasionaldetik.net
Suasana Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman terasa berbeda, tidak hanya dipenuhi jamaah yang datang untuk berdoa, tetapi juga masyarakat yang membawa makanan dari rumah, mengenakan busana terbaik, dan saling menyapa dengan wajah penuh sukacita.
Di tempat inilah tradisi Petang Balimau dan Punggahan Puasa kembali digelar, sebuah warisan budaya yang terus hidup di tengah modernnya Kota Medan.
Bagi sebagian generasi muda, istilah balimau mungkin terdengar asing. Namun bagi masyarakat Melayu, tradisi ini adalah simbol penyucian diri sebelum memasuki Ramadan.
Air limau yang digunakan bukan sekadar wewangian, melainkan lambang membersihkan lahir dan batin, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan niat menjalani ibadah puasa.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menilai tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan.
โPetang Balimau dan Punggahan Puasa bukan hanya budaya, tetapi tanda kesiapan hati menyambut Ramadan,โ ujarnya.
๐ง๐ฟ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ถ๐ฑ๐๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ก๐ถ๐น๐ฎ๐ถ ๐๐ฒ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฎ๐ป
Salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat adalah makan megang puasa bersama. Warga membawa hidangan dari rumah, lalu saling bertukar makanan sebelum disantap bersama-sama.
Tidak ada sekat jabatan atau status sosial, semua duduk bersila dalam suasana kekeluargaan.
Bagi masyarakat, inilah makna yang semakin relevan hari ini: memperkuat hubungan sosial di tengah kehidupan kota yang serba cepat, mengajarkan nilai berbagi kepada generasi muda, menjaga identitas lokal agar tidak tergerus budaya instan.
Tradisi ini menjadi ruang temu antara adat, agama, dan kehidupan modern.
๐๐๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ผ๐ธ๐ฎ๐น ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ ๐๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐ถ๐๐ฎ๐ ๐๐ผ๐๐ฎ
Dalam sambutannya, Rico Waas menegaskan bahwa kekuatan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya menjaga jati diri budaya.
Ia bahkan mengungkapkan kedekatan pribadinya dengan budaya Melayu.
โSaya bukan orang Melayu, tapi saya suka berbaju Melayu, suka berdendang dan berpantun. Kalau sudah cinta, itu akan menjadi kebiasaan.โ
Pesan ini penting bagi masyarakat Medan yang dikenal sebagai kota multietnis: budaya tidak harus dimiliki secara garis keturunan untuk dijaga, tetapi bisa dirawat melalui rasa memiliki bersama.
๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ: ๐๐๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ฒ๐ธ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป
Dalam berbagai kesempatan di luar negeri, Rico melihat bagaimana kota-kota dunia menjadikan budaya lokal sebagai daya tarik global.
Menurutnya, Medan memiliki potensi yang samaโtradisi seperti Petang Balimau dapat menjadi identitas yang dikenal luas jika terus dilestarikan dan diperkenalkan.
Artinya, menjaga tradisi bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga: memperkuat karakter masyarakat, mendukung pariwisata berbasis budaya, membangun kebanggaan generasi muda terhadap asal-usulnya.
๐ฆ๐ถ๐บ๐ฏ๐ผ๐น ๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐๐ฐ๐ถ๐ฎ๐ป, ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐ฆ๐ฒ๐ฟ๐ฒ๐บ๐ผ๐ป๐ถ๐ฎ๐น
Acara ditutup dengan prosesi penyiraman air berlimau kepada sejumlah pria sebagai tanda dimulainya Petang Balimau.
Prosesi sederhana ini sarat makna: manusia memasuki Ramadan dengan hati yang bersih, meninggalkan perselisihan, dan membuka lembaran baru.
Di tengah era digital yang serba cepat, pesan yang disampaikan justru sangat relevan, agar masyarakat tidak larut meniru budaya luar tanpa menyaringnya, serta tetap menjaga situs-situs bersejarah seperti Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman sebagai bagian dari perjalanan peradaban Medan.
๐ ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐๐ ๐ฅ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฅ๐ฎ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ถ๐ธ๐ถ
Melalui kegiatan yang digelar Pemko Medan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini, masyarakat diajak melihat Ramadan bukan hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga momentum memperkuat identitas, persatuan, dan kebersamaan dalam keberagaman.
Ramadan akhirnya datang bukan sekadar ditandai pergantian kalender hijriah, melainkan oleh:
aroma limau, hidangan yang saling dibagi,
tawa yang bersahut dan doa yang dipanjatkan bersama.
Sebuah pengingat bahwa di Kota Medan, tradisi masih menjadi cara paling hangat untuk menyambut bulan suci.
Ardiansyah Ginting .
Editor: Nur Kennan Tarigan .





































