Jakarta, 10 Agustus 2026||NasionalDetik.Com
Koordinator Sindikat Intelijen Nahdlatul Ulama, Abdur Rozaq, menilai bahwa memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, PBNU membutuhkan figur pemersatu yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin, menjaga marwah organisasi, sekaligus membawa NU menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai jam’iyah diniyah wa ijtima’iyah.
Menurut Abdur Rozaq, sosok KH Imam Jazuli layak dipertimbangkan sebagai salah satu figur jalan tengah dalam kepemimpinan PBNU ke depan. Ia menilai Kiai Imam memiliki rekam jejak keilmuan, kepesantrenan, kemandirian ekonomi dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok sehingga berpotensi menjadi titik temu berbagai aspirasi warga Nahdliyin menjelang Muktamar NU.
“NU memasuki abad kedua membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan dan mempersatukan, bukan mempertajam perbedaan. Yang dibutuhkan adalah jalan tengah, kepemimpinan yang mengedepankan musyawarah, ukhuwah, dan kemashlahatan organisasi. Dalam pandangan kami, KH Imam Jazuli merupakan salah satu figur yang memiliki kapasitas tersebut,” ujar Abdur Rozaq.
Ia menilai berbagai dinamika menjelang Muktamar merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang sehat di lingkungan NU. Namun demikian, seluruh proses tersebut harus tetap berlandaskan akhlakul karimah, adab kepada para masyayikh, serta komitmen menjaga persatuan jam’iyah.
Abdur Rozaq juga mencermati munculnya berbagai aspirasi dari kalangan pesantren dan warga Nahdliyin yang menginginkan hadirnya kepemimpinan PBNU yang mampu mengonsolidasikan seluruh potensi organisasi. Menurutnya, munculnya nama KH Imam Jazuli dalam berbagai diskursus menunjukkan adanya harapan agar PBNU dipimpin oleh figur yang mampu menjadi perekat seluruh elemen NU, bahkan dalam polling yang dilakukan beberapa lembaga survey, KH Imam Jazuli mendapatkan posisi teratas.
Selain itu, langkah komunikasi dan penyatuan visi yang dilakukan KH Imam Jazuli dengan sejumlah tokoh NU baik struktural maupun kultural dan kyai kyai pengasuh pondok pesantren selama ini dan menjelang Muktamar ke 35 dinilai sebagai ikhtiar membangun suasana yang teduh dan kondusif. Bagi Abdur Rozaq, semangat silaturahmi dan konsolidasi jauh lebih penting dibandingkan membangun polarisasi di tengah warga Nahdliyin.
“Kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjawab tantangan digitalisasi, penguatan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, kaderisasi ulama, hingga penguatan peran NU dalam menjaga persatuan bangsa. Karena itu, PBNU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga mampu membangun kepercayaan seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan kepemimpinan PBNU tidak semata ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemen NU menjaga ukhuwah nahdliyah dan menghormati mekanisme organisasi sebagaimana diatur dalam Qonun Asasi dan AD/ART NU.
“Muktamar bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi momentum memperkuat khidmah kepada umat, menjaga warisan para muassis, serta menyiapkan arah perjalanan Nahdlatul Ulama menuju era baru keemasan pada abad keduanya. Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU harus mendapatkan dukungan seluruh warga Nahdliyin demi kemajuan organisasi dan kemashlahatan bangsa,” tutup Abdur Rozaq.
(Red)





































