LANGKAT —
Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, kehidupan sehari-hari warga pernah dihiasi oleh debu tebal dan langkah kaki panjang menuju sumber air.
Bagi Ibu Siti (52), seorang ibu tunggal yang merawat tiga anak, setiap pagi berarti berjalan sejauh 3 kilometer membawa jeriken kosong.
Namun, sejak kehadiran Satgas TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat, hidupnya berubah drastis. Sumur bor yang dibangun bersama TNI kini menjadi sumber air bersih tepat di depan rumahnya.
Brigjen TNI Yanto Reinald Nainggolan, Ketua Tim Wasev TMMD 128, saat meninjau lokasi pada Selasa (12/05/2026), langsung menyapa Ibu Siti.
Ia duduk bersamanya di teras rumah sederhana itu, mendengarkan cerita tentang bagaimana dulu ia harus bangun pukul 04.00 WIB hanya untuk mengambil air sebelum anak-anak berangkat sekolah.
“Saya tidak pernah bayangkan bisa punya air bersih di halaman sendiri,” kata Ibu Siti sambil menahan haru.
Kehadiran sumur bor bukan sekadar infrastruktur, tapi simbol harapan. Dalam kunjungannya, Brigjen Yanto menekankan bahwa TMMD bukan soal beton atau aspal, tapi tentang mengubah nasib manusia.
“Kita bangun jalan agar mereka mudah akses pasar, kita bangun sumur agar anak-anak sehat, kita renovasi rumah agar mereka tidur nyenyak tanpa takut atap bocor,” ujarnya.
Warga lain, Pak Amir (60), mantan petani yang kini jadi tukang batu di proyek TMMD, mengaku merasa dihargai.
“Dulu saya cuma dapat upah harian dari tetangga. Sekarang saya dilibatkan langsung, diajari teknik bangunan, bahkan diberi seragam kerja. Saya merasa bagian dari sesuatu yang besar,” katanya bangga.
Interaksi antara Brigjen Yanto dan warga menciptakan suasana hangat yang jarang terjadi di daerah terpencil.
Anak-anak kecil berebut ingin foto bersama jenderal bintang satu itu, sementara para lansia berterima kasih karena akhirnya punya akses kesehatan lebih baik lewat posyandu yang juga direnovasi.
Melalui TMMD 128, Desa Pasar Rawa bukan lagi desa tertinggal. Ia menjadi contoh nyata bahwa ketika TNI turun tangan dengan hati, maka perubahan bukan hanya terlihat—tapi terasa.
Dan bagi Ibu Siti, air bersih itu bukan lagi mimpi, melainkan anugerah yang mengalir setiap hari, membawa senyum baru bagi keluarganya.(***)





































