KUTACANE – Di tengah padatnya agenda birokrasi Kabupaten Aceh Tenggara, ada satu pemandangan yang kerap mencuri perhatian: momen di mana Sekretaris Daerah (Sekda) Yusrizal, ST, berbaur dengan warga. Menariknya, sapaan yang terdengar bukanlah “Pak Sekda” yang kaku, melainkan sapaan akrab “Lakun” atau abang ipar.
Kedekatan Yusrizal dengan suku Gayo di Aceh Tenggara memang bukan polesan citra. Hubungan ini berakar kuat pada ikatan kekeluargaan yang tulus, mengingat sang istri merupakan bagian dari keluarga besar suku Gayo. Hal inilah yang membuat kehadirannya di tengah masyarakat terasa seperti “pulang ke rumah sendiri.”
Bagi warga Gayo di Aceh Tenggara, Yusrizal adalah figur yang berhasil meruntuhkan sekat antara pejabat dan rakyat. Gaya komunikasinya yang bersahaja—tanpa jarak dan penuh santun—menjadi alasan mengapa ia begitu diterima secara emosional.
”Beliau itu tidak seperti pejabat yang minta dilayani. Kalau bertemu, senyum dan sapaannya duluan yang sampai. Rasanya seperti bicara dengan keluarga sendiri,” ujar salah satu warga saat ditemui di sela kegiatan kemasyarakatan.
Di kabupaten yang kaya akan keberagaman budaya seperti Aceh Tenggara, karakter Yusrizal yang inklusif menjadi aset penting. Ia tidak hanya menjalankan fungsi administratif sebagai pemimpin birokrasi, tetapi juga berperan sebagai jembatan sosial.
Keterbukaannya dalam berinteraksi—baik di balik meja kantor maupun saat duduk bersama warga di acara adat—menunjukkan kualitas pemimpin yang membumi. Ia membuktikan bahwa jabatan tinggi tidak harus membuat seseorang kehilangan sentuhan kemanusiaan dan penghormatan terhadap akar budaya lokal.
Apresiasi yang mengalir dari masyarakat bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas ketulusan. Yusrizal telah memberikan warna baru dalam kepemimpinan di daerah: bahwa integritas seorang pejabat justru terpancar saat ia mampu menghargai dan menyatu dengan adat istiadat rakyatnya.
Hingga kini, sosok “Lakun” ini terus menjadi inspirasi bagi banyak pihak tentang bagaimana cara memimpin dengan hati, tanpa melupakan esensi sebagai pelayan masyarakat.
(SF)





































