Mardingding, -Tanah Karo -Nasionaldetik.com
– Program pemberdayaan ekonomi melalui pengadaan ternak kambing yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lau Solu, Kecamatan Mardingding, kini berada di ujung tanduk. Alih-alih mendatangkan keuntungan bagi desa, proyek ini justru terancam gagal total setelah puluhan ekor kambing ditemukan mati secara berturut-turut.
Kondisi ini memicu keresahan warga dan memunculkan dugaan adanya ketidakberesan dalam proses pengadaan bibit ternak tersebut.
Bibit Diduga Tak Sesuai Spesifikasi,
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kematian massal ternak ini diduga kuat akibat kualitas bibit yang buruk.
Kondisi fisik kambing saat pertama kali tiba sudah terlihat lemah dan tidak sesuai dengan spesifikasi ternak unggul yang seharusnya.
”Seharusnya bibit yang datang itu sehat dan sudah melalui karantina. Tapi yang kami lihat, banyak yang terlihat sakit-sakitan tak lama setelah sampai. Sekarang satu per satu mati,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Senin, (26/01/2026)
Indikasi Mark-Up Harga
Selain masalah kualitas, proyek ini juga diterpa isu miring terkait penggunaan anggaran. Muncul dugaan kuat adanya praktik mark-up (penggelembungan harga) dalam proses pengadaan bibit kambing tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, terdapat selisih harga yang cukup signifikan antara anggaran yang dikeluarkan BUMDes dengan realitas harga pasar untuk bibit dengan kualitas serupa.
Hal ini memicu kecurigaan bahwa ada pihak-pihak yang sengaja mengambil keuntungan pribadi di atas program pembangunan desa.
Poin-Poin Utama Dugaan Permasalahan:
– Tingkat Kematian Tinggi: Populasi kambing berkurang drastis dalam waktu singkat.
– Kualitas Bibit: Diduga tidak melalui seleksi kesehatan yang ketat dan tidak sesuai standar teknis.
– Transparansi Anggaran: Harga per ekor kambing dinilai tidak wajar jika dibandingkan dengan kondisi fisik ternak yang diterima.
– Ancaman Kerugian Desa: Dana desa yang dialokasikan Kuranglebih Rp.140 juta terancam sia sia tanpa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Warga mendesak pihak terkait, termasuk Inspektorat dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), untuk segera turun ke lapangan melakukan audit investigatif. Jika ditemukan bukti penyelewengan, warga meminta agar oknum yang terlibat diproses secara hukum demi menyelamatkan keuangan desa.
Hingga berita ini diterbitkan Pihak pengelola BUMDes Lau Solu belum memberikan keterangan resmi terkait polemik ini.
Sementara Kades Lau Solu saat dikonfirmasi mengaku bahwa dana yang digelontorkan untuk kegiatan ketahanan pangan melalui pengadaan bibit ternak kambing sebanyak 50 ekor dan pembangunan kandang beserta biaya operasional sudah dianggarkan dari APBDes T.a 2025 sebanyak Rp. 140 juta
Pihaknya (kades) lau solu juga belum mengetahui penyebab utama matinya ternak kambing tersebut, upaya yang telah dilakukan Pemerintahan desa dan manager BUMDes, sudah melaporkan ke Dinas terkait untuk dilakukan pemeriksaan dan penelitian penyebab kematian hewan ternak kambing yang dikelola BUMDes Lau Solu. Pungkasnya.
(Red)





































