MEDAN –
Tak semua jeritan terdengar, tak semua air mata terlihat. Di balik padatnya aktivitas Kota Medan, ada sebuah gubuk reoy di Kecamatan Medan Marelan yang menyimpan kisah pilu tentang perjuangan seorang ayah mempertahankan kehidupan keluarganya.
Namanya Bapak Juned. Setiap hari ia mencari nafkah sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan. Usaha kecil itulah yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghidupan bagi istri dan kedua anaknya.

Namun cobaan datang bertubi-tubi. Mesin kompresor yang menjadi alat utama untuk bekerja dilaporkan hilang.
Sejak saat itu, Bapak Juned hanya mengandalkan pompa angin manual untuk melayani pelanggan. Pendapatan yang sebelumnya sudah sangat terbatas kini semakin berkurang.

Di dalam rumah yang jauh dari kata layak, Bapak Juned dan keluarganya berusaha bertahan.
Beban ekonomi membuat anak sulungnya yang berusia 10 tahun menunggak biaya sekolah di salah satu SD swasta di Marelan selama lebih dari satu tahun.
Sementara putri bungsunya, Cahaya, yang berusia tujuh tahun, belum dapat menginjak bangku sekolah tahun ini karena orang tuanya tidak memiliki biaya pendaftaran.

Yang paling memilukan, keluarga kecil ini mengaku pernah tidak memiliki uang untuk membeli makanan.
“Tadi saja kami makan tidak ada uang. Saya sampai pinjam uang sama tetangga supaya anak-anak bisa makan. Yang besar sudah setahun lebih nunggak sekolah, sedangkan yang kecil belum bisa sekolah karena tidak ada biaya,” tutur Bapak Juned dengan suara lirih.
Kisah tersebut kemudian sampai ke telinga jajaran DPC GRIB Jaya Kota Medan melalui pemberitaan media.
Menyikapi informasi itu, Ketua OKK DPC GRIB Jaya Kota Medan Dudi Efni Pasaribu segera melaporkannya kepada Pembina Ferdy Sanjaya Sembiring, Ketua DPC Rudy Ginting, Sekretaris Cabang Drs. Toyib Marbun dan Bendahara Rio Siahaan.
Tanpa menunda waktu, Ketua OKK meminta salah seorang anggota DPC GRIB Jaya Kota Medan yang akrab dikenal masyarakat dengan sapaan Aley Gojek untuk segera turun langsung ke lokasi guna memastikan kondisi keluarga Bapak Juned sekaligus melihat musibah kehilangan mesin kompresor yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Langkah cepat tersebut menjadi bentuk kepedulian awal agar kondisi keluarga Bapak Juned dapat diketahui secara langsung dan dicarikan jalan keluar bersama.
Di balik dinding gubuk yang reot itu, masih tersimpan mimpi dua anak yang ingin bersekolah, harapan seorang ibu agar dapur tetap mengepul, dan doa seorang ayah yang setiap hari berjuang demi keluarganya meski cobaan terus datang silih berganti.
Kisah Bapak Juned menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan kota, masih ada keluarga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.
Semoga kepedulian yang mulai tumbuh dapat membuka jalan bagi hadirnya lebih banyak uluran tangan, sehingga kedua anaknya dapat kembali memiliki kesempatan meraih pendidikan dan keluarga ini dapat bangkit dari musibah yang mereka alami.(AVID)





































